Sunday, December 25, 2011

IKLAS DALAN ZAKAT DAN SODAQAH

Ikhlas Dalam Zakat dan Shadaqah
Ikhlas dalam zakat dan shadaqah adalah memurnikan niat dan tujuan
dalam mengeluarkan rezeki yang diberikan Allah pada seorang hamba, sematamata
untuk menaati perintah dan mencari keridhaan Allah SWT. Jadi hamba
yang ikhlas dalam berzakat dan shadaqah, sedikitpun tidak ada niat dan
tujuan lain selain keridhaan Allah.
Zakat sendiri menurut bahasa berarti kesuburan, keberkahan, dan
pensucian. Zakat adalah perintah Allah pada kaum muslimin dengan
mengeluarkan harta dari pemiliknya pada orang yang berhak, untuk
membersihkan seluruh hartanya, sesuai firmannya :
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orangorang
yang ruku.“ (QS. AL-Baqarah : 43)
“Ambillah shadaqah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu
kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan do’alah untuk mereka.
Sesungguhnya do’a itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah
Maha Mendengar lagi Mengetahui.“ (QS. AT-Taubah : 103)
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang mempunyai fungsi yang
sangat penting dalam kehidupan manusia, karena disatu pihak ia
merupakan bentuk pelaksanaan amal manusia sebagai makhluk sosial,
dan di lain pihak mendorong dinamika manusia untuk berusaha
mendapatkan karunia Allah di muka Bumi. Zakat dan shadaqah adalah
satu prinsip hidup seorang muslimin yang di ajarkan oleh Nabi
Muhammad SAW, agar menjadi hamba Allah yang dermawan, sesuai
sabda beliau :
“ Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.“ (Hadist)
Artinya hidup memberi itu baik dari pad meminta. Berderma dari
sebagian harta yang Allah karuniakan kepada hamba adalah prilaku
mulia yang sangat di sukai Allah SWT. Allah akan memberi pertolongan,
rahmat dan kemenangan bagi hamba-hambanya yang mengeluarkan
zakat dan shadaqahnya dengan penuh keikhlasan, dan hal tersebut
tercermin dari niat yang bersih dari-Nya dan bersih dari rasa terpaksa.
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan(pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya, dan menyakiti (perasaan si penerima),
seperti orang yang menafkahkan hartanya karena-Nya kepada manusia, dan dia
tidak beriman kepada Allah, dan hari kemudian, maka perumpamaan orang itu
seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu di timpa hujan
lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai
sesuatupun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi
petunjukkepada orang-orang yang kafir.“ (QS. AL-Baqarah : 264)
Sungguh sia-sia orang yang bersedekah dan berzakat dengan
tujuan riya’. Mengeluarkan harta untuk menyombongkan diri, mencari
pujian manusia, mencari popularitas, ingin disebut dermawan. Sungguh
merugi manusia yang tidak ikhlas dalam berzakat dan bershadaqah.
Karena amalnya bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu di timpa hujan lebat, maka menjadi bersihlah batu tersebut dari
tanah. Tanah di atas batu itu perumpamaan amal, dan batu yang kembali
licin akibat hujan itu ibarat amal hamba yang beramal disertai riya’,
sungguh sia-sia dan tak ada gunanya. Dan Allah, tidak menyukai orangorang
yang riya serta menyombongkan diri, sesuai firmannya :
“…Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri (36) (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh
orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah
diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang
kafir siksa yang menghinakan (37) dan (juga) orang-orang yang menafkahkan
harta-harta mereka karena-Nya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak
beriman kepada Allah, dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang mengambil
syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburukburuknya
(38).“ (QS.AN-Nisaa’: 36-38)
Zakat adalah sarana untuk membersihkan harta dan mensucikan
diri. Tetapi bila itu dilakukan dengan tujuan-tujuan selain Allah, apalagi
digunakan sebagai sarana untuk menyombongkan diri dihadapan Allah.
Maka sia-sialah amalnya, lebih dari itu, Allah akan menghukum mereka
yang sombong dan membanggakan diri, dengan siksaan yang
menghinakan.
Shadaqah adalah amal yang sangat dimuliakan, apabila dilakukan
dengan penuh keikhlasan. Dapat menimbulkan kasih sayang dan rasa
setia kawan terhadap kaum muslim, memperkecil jurang pemisah antara
si kaya dan si miskin. Dan kaum muslim, diperintahkan oleh Rosullullah
untuk bershadaqah dalam keadaan apapun sesuai sabdanya:
“Atas tiap-tiap mukmin, shadaqah.”Para sahabat bertanya.”Bagaimana
keadaan orang-orang yang tidak mempunyai harta?” Nabi menjawab.” Dia
bekerja, lalu memberi manfaat kepada dirinya dan bersadaqah.” Para sahabat
bertanya pula, ”jika ia tidak dapat bekerja sebagai yang di maksudkan?” Nabi
menjawab, “ia memberi pertolongan kepada orang-orang yang membutuhkan
pertolongan.” Para sahabat bertanya lagi, “ Jika ia tidak dapat demikian?.”
Nabi menjawab,”Hendaklah ia mengerjakan yang makruf, menahan diri
kejahatan, karena yang demikian itu sadaqah baginya.” ( H.R Bukhari )
Shadaqah tak harus berbentuk harta saja, bagi kaum muslimin
yang diuji Allah dalam kesempitan, shadaqah tetap bisa dilakukan
dengan mengerjakan yang makruf, dan menahan diri dari berbuat
kejahatan. Dan sangatlah penting memurnikan amal dengan
memfokuskan niat dan tujuannya hanya untuk Allah saja, tanpa pamrih,
niatan-niatan yang terselubung.
Ibnu ATHA ILLAH, menjelaskan dalam Al-Hikam:
“Jangan menuntut imbalan atas suatu amal yang pelakunya bukan dirimu
sendiri. Cukuplah balasan Allah bagimu jika dia menerima amal itu .”
”Bila engkau menuntut imbalan atas suatu amal, pasti engkau pun akan
dituntut untuk tulus dalam melakukannya. Dan bagi yang merasa belum
sempurna, cukuplah bila ia telah selamat dari tuntutan.”
Keikhlasan beramal sejati, terkait dengan tauhid. Yakni keyakinan
bahwa semua aspek kehidupan dan wujud berasal dari-nya (Allah). Maka,
balasan tertinggi amal perbuatan kita adalah, kesadaran kita terhadap
sang sumber, dan kehadiran Allah dalam setiap amal perbuatan seorang
hamba. Artinya ketika hamba Allah menzakatkan atau menshadaqahkan
sebagai rezekinya untuk mereka yang berhak, hakikatnya ia hanyalah
perantara pemberi pada saudara-saudaranya yang membutuhkan (fakir
miskin). Rezeki yang ia keluarkan, hanyalah amanah dan titipan Allah
padanya, agar ia terhindar dari penyakit tamak (rakus) dan kikir atas
segala karunia yang Allah berikan kepadanya. Dan mereka-mereka yang
bershadaqah dengan ihklas, jangan takut kalau hartanya akan habis.
Sebab Allah berjanji dalam firmannya, apabila hamba Allah menanamkan satu
kebaikan, maka Allah akan membalas kebaikan hambanya itu sepuluh kali
lipatnya.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment