Sunday, December 25, 2011

MUAMALAH EKONOMI

Muamalah Ekonomi
Aktivitas seorang hamba Allah dalam muamalah ekonomi adalah
usaha seorang hamba mencari karunia Allah di muka bumi. Banyak cara
yang dilakukan manusia untuk untuk memperoleh rezeki, mulai aktivitas
pertanian, perikanan, peternakan, perniagaan, jasa, pertambangan dan
profesi pengkayaan lainnya. Mulai proses produksi, distribusi,
pemasaran, hingga konsumsi sumber-sumber ekonomi tersebut. Tetapi
tujuan muamalah ekonomi hamba Allah yang ikhlas, bukan sekedar
mencari keuntungan ekonomi sebesar-sebesarnya dengan modal sekecilkecilnya,
dengan segala cara walaupun harus menipu, berbohong, dan
bermain curang. Tujuan muamalah ekonomi hamba Allah yang ikhlas
adalah mengusahakan rezeki, untuk mensyukuri nikmat karunia Allah, sebagai
sarana beribadah, untuk mencapai kesejahteraan hidup di Dunia dan di Akhirat.
“Siapa yang berpegang teguh kepada Allah SWT, niscaya ia di cukupkan
oleh Allah setiap kebutuhannya. Dan diberikannya rezeki dimana tidak
disangkakannya. Dan siapa yang berpegang teguh kepada dunia, niscaya ia
diserahkan oleh Allah kepada Dunia.“ (HR. Ath-Thabrani)
Walaupun manusia membutuhkan rezeki, tapi bukan berarti
hamba Allah harus terbudaki, terexploitasi, hingga meng-Tuhan-kan
Duniawi. Rezeki hanyalah sarana hamba Allah untuk beribadah, dan
mensyukuri segala nikmat Allah yang ia karuniakan di muka Bumi ini.
Apapun yang manusia usahakan untuk memperoleh rezeki, tak mungkin
berhasil dengan baik, kecuali Allah mengizinkannya. Karena itu, sudah
sepantasnyalah hamba Allah, mengembalikan segala sesuatu yang ia
usahakan hanya kepada Allah saja. Karena hamba yang yang istiqomah,
dan berserah diri secara utuh kepada Allah. Niscaya dia akan
mencukupkan segala kebutuhannya, juga mendatangkan rezekinya dari
tempat-tempat yang tidak disangka-sangkanya.
Rosullullah mencontohkan seekor burung, bagi hamba-hamba
Allah yang ikhlas dalam bermuamalah mencari rezeki untuk memenuhi
kebutuhan ekonominya. Seluruh makhluk di muka bumi ini telah Allah
tetapkan rezekiya, dan dia tak mungkin salah membagi-bagikan karunia-
Nya. Manusia hanya perlu berikhtiar dengan ikhlas, selebihnya biar Allah
yang menentukan.
“ Jikalau kamu berserah diri kepada Allah ta’ala dengan berserah diri yang
sebenar-benarnya, niscaya dia akan memberikan rezeki kepada kamu, sebagaimana
dai memberikan rezeki kepada burung yang keluar pagi-pagi dengan perut
kempis, dan kembali sore dengan perut kenyang. “ (HR. AT-Tirmidzi)
Allah SWT menilai rezeki dari dua sisi. Pertama, cara mendapatkan
rezeki. Kedua, kemana akan di belanjakan rezeki tersebut. Dua sisi tersebut
harus dijalankan dengan baik sesuai kehendak Allah, apabila salah satu
sisinya diperoleh dengan cara yang salah, maka muamalahnya akan siasia,
dan tidak bernilai ibadah di mata Allah. Muamalah ekonomi hamba
yang ikhlas, adalah ikhtiar yang diperoleh dengan cara yang baik, dan
digunakan pada hal-hal yang telah dihalalkan oleh Allah. Tapi juga jangan lupa
mengeluarkan zakat dan shodaqah, karena dalam rezeki yang Allah karuniakan
pada hamba-hambanya, ada hak kaum fakir miskin.
Karena itu, mengeluarkan zakat dan shodaqah adalah untuk
mensucikan harta, agar amal muamalah kita bernilai ibadah disisi Allah.
Muamalah ekonomi dalam Islam, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai
kejujuran, keadilan, kedermawanan, dan keikhlasan. Muamalah ekonomi
yang diridhoi Allah, dengan tegas menolak keserakahan, kerakusan,
ketidakpastian, ketidakadilan, penipuan, pemerasan, penimbunan,
monopoli, dan riba.
Seperti firmannya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan
tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang
beriman.“(QS. AL-Baqarah : 278)
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak
menyukai setiap yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.“ (QS. ALBaqarah
: 276)
Riba adalah pembayaran lebih yang di syaratkan oleh orang yang
meminjamkan. Allah telah mengharamkan riba (dan menghalalkan jual
beli). Hamba Allah yang ikhlas dalam bermuamalah ekonomi, ia akan
memusnahkan ekonomi riba, dan lebih meyuburkan sedekah dan zakat.
Karena itu, muamalah ekonomi yang di ridhai Allah adalah ikhtiar yang
akan membawa keberkahan, keadilan, dan keselamatan hamba Allah di
dunia dan di akhirat. Selain cara mendapatkannya, hamba Allah yang
ikhlas juga perintahkan tidak membelanjakan hartanya berlebih-lebihan,
mubazir, boros, dan bermewah-mewahan. Sebaliknya, tidak juga pelit,
kikir, menumpuk hartanya, hingga enggan mengeluarkan zakat dan
shodaqah.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment